Japan

Destinasi Wisata di Fukuoka Part 3 (End): Sarakurayama

Sebetulnya tulisan yang cuma 3 part ini sangat kurang dari kenyataan sebenarnya. Karena aslinya tempat wisata di daerah ini tuh seabreg. Tulisan ini dibuat karena aku merasa bahwa tiga tempat ini memberi kesan tersendiri ^^.

BACA JUGA:

Destinasi Wisata di Fukuoka Part 1 : Kokura Castle

Destinasi Wisata Part 2: Mojiko Retro

Kali ini aku mau sharing perjalananku waktu ke Sarakurayama. Yama artinya Gunung dalam bahasa Jepang. Jadi Sarakurayama adalah Gunung Sarakura. Berada di daerah Yahata, Kota Kitakyushu. Gunung dengan tinggi 622 meter ini terkenal karena pemandangan malamnya yang indah dan termasuk dalam tiga besar pemandangan malam terindah di Jepang. Dari atas ketinggian kita bisa melihat hamparan kota Kitakyushu yang rapi dan gedung-gedung Industri yang menjulang. Kitakyushu memang merupakan kota Industri, namun demikian udara di sini tetaplah bersih.

Hm…siapa yang ga mau nyobain naik ke Gunung ini. Apalagi kesempatan itu datang tak terduga. Adikku yang habis wisuda lagi manis banget sampai-sampai kami ditraktir sushi di daerah Sushiro Tobata. Pas lagi sibuk icip ini, pencet itu, minum macha dan sebagainya. Dia nyeletuk lagi, mau ga ke Gunung Sarakura? Kontan saja kami semua jawab dengan sangat mau ga malu-malu. ” MAUUUUUUU…”

Akhirnya setelah urusan makan dan cari oleh-oleh selesai, kami langsung melesat menuju stasiun dengan tujuan akhir Stasiun Yahata. Dari Tobata ke Yahata melewati tiga stasiun dengan harga tiket sebesar 210 yen. Sesampainya di Yahata kami tidak langsung keluar. Demi kenyamanan perjalanan kami mampir dulu di Toilet stasiun yang bersiiih banget. Selain toilet pria dan wanita ada juga loh toilet untuk orang cacat dan manula.

Saat keluar pintu stasiun, aku terpaku pada gambar besar yang merupakan Peta Daerah Yahata. Infografis yang dibuat lengkap dan juga lucu itu memberi tahu para pengguna mengenai informasi daerah Yahata mulai dari tempat wisata sampai festival yang digelar di tempat tersebut.

Lucu ya infografisnya

Karena hari mulai beranjak siang, kami pun langsung menuju ke halte bus terdekat. Sudah hampir setengah jam kami menunggu tapi bus belum muncul juga. Bus yang kami maksud adalah Free Shuttle Bus, bus gratis yang mengantar kami langsung ke stasiun Cable Car. Memang, untuk menuju ke atas kita hanya perlu naik Cable Car dan Slope Car. Sebagian orang juga ada sih yang memanfaatkan jalan yang disediakan untuk para pecinta hiking. Jangan salah, disini yang cinta mendaki gunung bukan hanya anak muda, justru orang lansia masih pada kuat untuk mendaki gunung. Tapi kami memilih untuk mencoba naik memakai Cable Car.

Nah, sayang sekali kami lupa kalau hari itu adalah hari Senin. Sementara bus gratis  yang ditunggu hanya ada pas hari Sabtu dan Minggu saja. Naasnya, baterai wifi portabel yang dibawa juga sudah habis. Kami pun sibuk nyari charger. Sebetulnya bisa saja bertanya pada bagian informasi turis yang suka ada di setiap stasiun. Namun, Yahata belum adikku kenali sepenuhnya. Akhirnya ia memutuskan bertanya pada pelayan sebuah minimarket di sekitar situ. Ada juga turis asing yang menawarkan bantuan, adikku menolak halus saat melihat turis tersebut pun masih bertanya -tanya pada Tour Guide nya. Untungnya, tak jauh dari pintu mini market aku melihat chargeran yang tidak terpakai. Pfuih...akhirnya selang beberapa menit, setelah wifi portabel menyala adikku langsung searching bus. Memang untuk bus, tidak semua orang Jepang familiar. Ini dikarenakan rute bus yang cenderung memutar dan lama. Biasanya bus di Jepang lebih diminati anak sekolah dan para lansia karena jarak halte yang dekat dan tak perlu berjalan jauh.

Bus yang akan mengantar kami pun datang, Bus No. 46. Akupun bergegas masuk dengan mengambil secarik kertas yang merupakan pengganti kartu di dekat pintu masuk.  O iya selama di Jepang aku tidak memakai JR Pass, karena setelah ku hitung-hitung akan lebih mahal pengeluarannya.

Nomor di kertas kita cocokkan dengan monitor depan. Jumlah di bawah nomor kita adalah ongkos yang harus di bayar saat mencapai halte tujuan

Menuju stasiun Cable Car ternyata tak semudah bayangan kami yang notabene masih baru. Adikku juga ga familiar sama bus karena biasanya dia pergi memakai Free Shuttle bus yang tahu-tahu sudah sampai saja di stasiun Cable Car. Kami pun turun di halte yang masih jauh dari tujuan. Mengandalkan GPS kami berjalan sedikit demi sedikit. Sempat nyasar juga ke kuil hahaha….Akhirnya dibantu oleh penduduk setempat yang luar biasa baik. Kami hanya bertanya dan bapaknya dengan senang hati mendampingi kami sampai menuju ke jembatan penyebrangan. Ku lihat mamaku sudah mulai letih. Bagaimana tidak, jalanannya mendaki walaupun sudah aspal bagus. Yang muda saja pulang dari sini berasa naik betis apalagi yang sepuh.

Setelah berjalan sekitar 10 menit (kalau di Google katanya 8 menit…ini pakai kakinya orang Jepang kali ya ^^), akhirnya kami pun sampai di depan stasiun Cable Car.

Sambil melihat daftar harga, selintas ada juga sepasang muda mudi yang juga hendak naik. Memang, satu cable car bisa memuat lebih dari 15 orang. Setelah membayar tiket sebesar 350 yen akhirnya satu per satu kami pun naik. Karena cuma berenam, aku memilih duduk paling depan biar terasa sensasinya.

Ini yang namanya cable car

Cable Car ini ada yang berwarna biru dan kuning. Bentuknya mirip kereta api dan saat naik ke atas berasa naik roller coaster tanpa adegan jatuh atau meliuk tiba-tiba. Yuk kita mulai perjalanannya. Ikimashooooo….^^

Dan selang beberapa menit kami pun sampai di stasiun slope car dan diminta untuk segera pindah karena kami kebanyakan foto sementara semuanya sudah terjadwal. Sumimasen...Cotto matte kudasai. Cekrekkk…

Slope Car merupakan kendaraan lanjutan dari Cable Car. Jika sebelumnya kita hanya merasakan sensasi roller coaster, di sini kita akan merasa ngeri sendiri karena kereta berjalan pada kemiringan lereng yang curam. Meski begitu jangan sampai menutup mata ya…karena nanti bakal kelewat pemandangan indah yang asik selama naik kereta ini. Sepasang muda mudi lokal pun tak ketinggalan menikmati pemandangan asik berdua.

Dan taraaaa….kami pun sampai di puncak Gunung Sarakura. Udara yang bersih dan pemandangan yang rapiiiiiih…Apalagi kalau malam pasti lebih cantik dengan kerlap kerlip lampunya.

Karena hari sudah sore, kami shalat di salah satu ruangan tempat koleksi foto berada. Sewaktu masuk sempat terlihat dari jendela beberapa mahasiswa sedang dibriefing. Ternyata mahasiswa tersebut berasal dari Universitas tempat adikku menimba ilmu yang sedang menjalankan proyek tes sinyal satelit. Karena ketinggiannya, Gunung Sarakura memang cocok dijadikan titik pencarian kekuatan sinyal.

O iya, di Sarakurayama juga terkenal dengan aula cintanya. Konon katanya jika sepasang muda mudi mengikrarkan cintanya di aula tersebut. Maka hubungannya akan langgeng.

Hari itupun ditutup dengan sangat puas. Sebetulnya aku ingin menyaksikan keindahan malam yang dielu-elukan itu. Tapi mengingat jarak tempat ini ke Kodaimae lumayan jauh, kami pun memutuskan pulang sebelum magrib meninggalkan keindahan Kitakyushu dari ketinggian Sarakura.