BPN Ramadhan 2021

#4: Pencapaian tertinggi dalam hidup, kenapa selalu ditanyakan sih?

Ampuuuun, lihat topik yang harus ditulis hari ini terasa sangat berat. Kenapa? Karena salah-salah menata bahasa sedikit saja pasti dibilangnya pamer atau kalau geng gaul bilangnya, bragging. Padahal jelas-jelas topiknya saja tentang pencapaian tertinggi dalam hidup. Sebelum membahas topik ini lebih jauh, saya ingin mengulik dulu kenapa sih topik tentang pencapaian tertinggi selalu muncul di mana-mana. Wawancara kerja, aplikasi beasiswa, eh sampai topik challenge hari ini juga malah mengangkat topik yang satu ini. Sepenting itukah mengenali pencapaian di dalam hidup, lalu bagaimana yang selama ini ritme hidupnya mendatar saja?

Tuh kan, mau jawab nanti dikira pamer, ga mau jawab dikira inferior. Let’s put aside that thought! Kenapa ada banyak tes psikotes dan wawancara yang begitu kepo dan kerap bertanya tentang hal ini? Tentu saja karena saat kita mengenali diri kita sendiri maka kita bisa mengenali sekitar. Bahkan hampir semua wawancara kerja menginginkan kita untuk mengeluarkan semua pencapaian tertinggi dalam hidup dengan semangat membara dan kebanggaan tiada tara. Why? Karena perusahaan lebih tertarik dengan orang-orang yang mengenali kemampuannya, apa yang bisa dia tawarkan dan semangat yang orang tersebut pegang untuk mencapai tujuannya.

Sebutlah kamu pandai di bidang matematika, kamu bangga dengan itu. Hidupmu berkutat dengan angka-angka dan sudah beberapa kali memenangkan perlombaan karenanya. Saat dirimu ingin mencari pekerjaan sebagai dosen matematika, maka tentu kamu harus bragging dirimu sebaik mungkin. Jual semua talenta yang ada dan tentu saja keinginan dan pencapaiannya hampir menyamai kaidah profesionalitas.

Tak mungkin kan orang dengan semangat membara atas pencapaiannya itu akan menjadi orang tak berguna setelah dipekerjakan. Pastinya perusahaan akan menghargai orang yang mendedikasikan kemampuannya sampai akhir. Bisa jadi juga, orang dengan kemampuan matematika ini malah akhirnya bekerja di showroom mobil. Hidup itu tak bisa diprediksi kawan. Tapi cara kerjanya tetap sama. Hidup akan selalu berada di pihak yang berusaha dengan gigih.

Hidup juga tak semulus kulit artis iklan sabun. Kadang saat pencapaian yang dianggap tertinggi seperti juara dalam perlombaan, kantong gendut tak berkesudahan, rumah mentereng, anak pandai dan penurut, istri atau suami yang rukun, tapi tetap saja selalu ada manusia yang merasa kurang.

Saat orang lain merasa bahwa bekerja sebagai pegawai negeri adalah pencapaian tertinggi, sebagian yang lain menganggap bahwa bekerja di swasta dengan gaji yang lebih menggiurkan adalah pencapaian tertinggi. Masing-masing orang memasang target yang berbeda. Orang yang mempunyai target membeli rumah tingkat dua tahun ini dan bisa mewujudkannya akan menganggap hal tersebut sebagai pencapaian. Sementara yang lain, menganggap bahwa membeli rumah kotak tanpa berhutang adalah pencapaian tertingginya.

Sebegitu beragamnya pencapaian tertinggi di kehidupan seseorang. Bahkan saya sendiri menganggap bahwa pencapaian tertinggi di hidup saya bisa berubah seiring waktu. Dulu saya menganggap bahwa memenangkan juara olimpiade sains merupakan pencapaian tertinggi. Tapi seiring waktu hal tersebut berubah.

Pepatah mengatakan bahwa kehidupan ibarat roda yang berputar, kadang di atas dan kadang di bawah. Maka dari itu, pencapaian tertinggiku saat ini adalah saat bisa membuat roda tetap berjalan meskipun berada di bawah. Kemampuan untuk mengatasi duri demi duri di jalan kehidupan adalah pencapaian. Bisa kembali berdiri setelah terjatuh juga definisi pencapaian tertinggi dalam hidupku saat ini.

Tapi tentu saja pernyataan itu tidak akan cukup membuatmu lulus dalam tes, kawan. Karena memamerkan pencapaian bukanlah suatu kesalahan jika pada tempatnya. Mengenali pencapaian dan mengakuinya merupakan pengharagaan terbesar untuk dirimu sendiri. Siapa lagi yang akan membuatmu kuat jika memberikan pujian untuk diri sendiri saja begitu pelit. Sometimes we need to pat our own back. Setelah itu, baru tunjukkan pada orang lain sesuai porsinya bahwa kamu mempunyai sesuatu yang kamu banggakan karena kamu telah berjuang.

Jadi, pertanyaan pencapaian tertinggi dalam hidup mudah sekali dijawab bukan? Jika kamu sudah mengatakan pencapaian tertinggimu pada tempatnya tapi masih ada saja orang yang menganggapnya pamer, maklumi saja. Kita tidak bisa mengontrol pikiran semua orang.