Menyukseskan Diversifikasi Pangan Lokal di Indonesia

Menyukseskan Diversifikasi Pangan Lokal di Indonesia

Bagiku mencintai Indonesia itu sangat mudah. Alamnya tersimpan di setiap sudut ingatan, rasa makanannya menggelayuti lidah sampai ke lautan seberang. Bahkan ketika kakiku berpijak di negeri matahari terbit, bulir nasi yang biasa kujumput lebih enak daripada memakai sumpit.

Jujur, nasi Jepang tak seharum nasi pandan wangi yang baru keluar dari dandang. Pun tak sepulen nasi cetra ramos yang tertanak sempurna di rice cooker hasil pantauan anak kos (itupun saat tak lupa memencet tombol “cook“).

Percayalah, dimasak dengan cara apapun, tak ada nasi yang seenak nasi Indonesia. Tak ada jajanan yang segurih jajanan Indonesia bagaimanapun penampakan minyak gorengnya. Semudah itu aku cinta dengan Indonesia. Aku bangga dengan semua yang Indonesia miliki. Namun, kebanggaanku ini tidak akan menjamin kelestarian alam Indonesia sampai generasi selanjutnya! Apa sebab?

Luas wilayah Negara Indonesia (Data: Kemdikbud)

Indonesia Kaya Sumber Daya Alam, Tapi Bukan Yang Paling Aman

Indonesia masih berada di urutan ke 65 dari 113 negara dalam urusan keamanan pangan. Dari luas daratan sebesar lebih dari 1 juta km2, ternyata hanya 33.2 % yang baru difungsikan sebagai lahan pertanian.

Tentu seiring dengan pertambahan jumlah penduduk Indonesia sekitar 270 juta jiwa (BPS, 2020), luas lahan pertanian akan senantiasa tergerus dan hasil produksinya tidak mengimbangi kebutuhan penduduk, terutama masalah pangan.

Padahal, hampir semua rakyat Indonesia sangat konsisten dalam ‘mencintai’ nasi. Sampai-sampai skor diversifikasi konsumsinya hanya mencapai 16.4 % saja dari total konsumsi.

Ketahanan Pangan di Indonesia
(Data: BPS, Kementrian Pertanian dan Global Security Food Index)

Dengan karakteristik masyarakat Indonesia yang sangat ‘mencintai’ nasi, maka tak dipungkiri impor tanaman pangan menjadi salah satu solusi. Dengan total impor tanaman pangan sebesar 52 %, diharapkan mampu memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga (52% dari PDB), dimana setengahnya didominasi oleh pengeluaran makanan.

Sejauh ini, laporan UN pada tahun 2020 menyatakan, kebutuhan dasar masyarakat Indonesia masih belum terpenuhi dengan baik. Lebih dari 19 juta penduduk yang terancam kelaparan dan 37 % dari balita mengalami stunting. Sungguh miris bukan? Tentu saja kita tidak mau seperti tikus yang mati di lumbung padi.

Hal ini diperparah manakala produsen hasil tanaman pangan belum merata di seluruh provinsi. Provinsi dengan produksi komoditas pangan terbanyak saat ini berasal dari Jawa Timur (18.20 %), Jawa Tengah (17.36 %) dan Jawa Barat (16.50 %). Sementara dalam setahun, konsumsi beras per orang bisa mencapai 300 gram (lokadata, 2020) dengan ketersediaan beras sampai 2020 mencapai 26.91 juta ton beras (Kementan, 2020). Sejauh ini, kata keamanan pangan kita masih terjamin karena dibukanya kran impor beras dari Vietnam dan Thailand.

Seperti yang kita tahu, produsen tanaman pangan khususnya beras belum merata. Adapun produsen terbesar untuk setiap komoditas pangan berbeda-beda setiap wilayah. Jagung banyak diproduksi oleh Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung. Ubi Jalar banyak diproduksi dari Jawa Barat, Papua, dan Jawa Timur. Produksi ubi Kayu terbesar berasal dari Lampung, Jawa tengah, dan Jawa Timur. Sementara provinsi yang paling banyak menghasilkan padi adalah Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.

Secara garis besar, banyak dari produsen hasil tanaman pangan ini masih berpusat di Pulau Jawa. Padahal, Indonesia adalah negara dengan megabiodiversitas terbesar ke – 2 di dunia! Bahkan Indonesia mempunyai beragam jenis tanaman pangan yang tersebar di seluruh provinsi. Hal ini bisa menjadi solusi atas masih rendahnya peringkat Indonesia dalam hal ketahanan dan keamanan pangan di mata dunia. Karena itu, diversifikasi pangan adalah kunci ketahanan pangan !

Mengenal Lebih Dekat Variasi Tanaman Pangan Non Beras di Indonesia

Ada beberapa jenis tanaman pangan non beras yang bisa dimanfaatkan sebagai pengganti beras, yaitu:

1. Ubi Kayu

Foto: Berdesa.com

Sebutan lainnya adalah singkong. Merujuk pada situs Kementan, Provinsi terbesar penghasil singkong adalah i) Lampung; ii) Jawa Barat iii) Jawa Tengah iv) DI Yogyakarta (Gunung Kidul); v) Jawa Timur ; vi) NTT (Sumba Barat, Kupang, TTS, TTU, BELU, Flores Timur, Sikka, Manggarai); vii) Sulawesi Selatan (Bulukumba, Jeneponto, Gowa, Maros, Tana Toraja, Enrekang); viii) Sumatera Utara (Tapanuli Utara, Simalungun, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Labuhan Batu, Dairi)

2. Ubi Jalar

Foto: idntimes.com

Seperti singkong, ubi jalar juga termasuk famili umbi-umbian. Rasanya manis dan sangat baik untuk kesehatan. Bahkan bayi yang sedang dalam masa MPASI, sangat dianjurkan mencoba rasa dan tekstur ubi jalar sejak dini.

Salah satu sentra ubi jalar paling terkenal berada di Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Selain itu ada juga yang berada di Jawa Tengah, Irian Jaya, Jawa Timur dan Sumatra Utara.

3. Sagu

Foto: Blibli.com

Berasal dari pohon sagu (Mettrolyxon Sagu Rottb). Biasanya dihasilkan dalam bentuk berupa tepung sagu yang bisa diolah menjadi beragam produk masakan.

Pohon sagu sangat familar sekali ditemukan di Indonesia bagian timur seperti Maluku, NTT, Papua, dan Sulawesi. Namun, produk tepung sagu bisa didapatkan di mana saja.

4. Jagung

Foto: Freepik.com

Jagung kaya akan protein dan kalium yang bagus untuk metabolisme tubuh. Selain itu, jagung juga bisa menjadi antioksidan alami, kaya akan asam folat dan mengandung vitamin C dan bioflavonoid yang sangat bermanfaat dalam menurunkan kolesterol.

Sentra produksi jagung terbesar berada di Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung, Sumatra Utara, Jawa Barat dan Sumatera Selatan.

5. Sorgum

Foto: Freepik.com

Meskipun dari sejarahnya, sorgum bukan tanaman asli dari Indonesia, tanaman ini mulai dibudidayakan di beberapa provinsi. Sorgum dimanfaatkan sebagai pengganti tepung gandum, pakan ternak, maupun kebutuhan industri.

Saat ini pengembangan sentra produksi sorgum masih berkisar di daerah NTB dan Demak, Jawa Tengah.

6. Janeng

Foto: kementan

Janeng lebih dikenal dengan sebutan gadung di beberapa daerah. Tanaman ini tumbuh liar dan biasanya diolah setelah melewati proses penghilangan racun dengan cara membalurinya dengan abu gosok dan disimpan dalam tanah selama beberapa hari.

Penghasil produksi gadung masih berada di daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Contoh Kuliner dengan Pangan Lokal Non Beras dari Berbagai Daerah

Orang Indonesia itu sangat kreatif. Ini juga menjadi salah satu hal kenapa Indonesia bikin bangga. Ada saja produk kuliner yang dihasilkan dari berbagai tanaman pangan non beras. Apa sajakah?

Kreasi kuliner dari pangan lokal non beras (Data: Kementan)

Manfaat Diversifikasi Pangan

Ada dua manfaat dengan adanya diversifikasi pangan lokal.

Pertama, diversifikasi pangan lokal sangat membantu metabolisme tubuh

Dalam sebuah studi terbaru mengenai Mikrobiom, imunitas tubuh manusia sangat dipengaruhi oleh keberadaan mikrobiom dalam tubuh.

Mikrobiom adalah virus dan bakteri yang hidup dalam tubuh manusia dan membantu dalam metabolisme dengan cara mengekstrak energi dari asupan makanan yang diproses tubuh. Diversifikasi pangan dan diet dapat membantu mengoptimalkan kinerja mikrobiom yang turut andil dalam metabolisme tubuh sehingga bisa terhindar dari penyakit non-degeneratif disease (non-infeksi) seperti obesitas, jantung, dan kolesterol.

Kedua, diversifikasi pangan lokal dapat membantu keberlanjutan ekosistem dan mengurangi dampak perubahan iklim

Banyak dari komoditas pertanian besar saat ini bersifat homogen dan dikelola secara masif. Hal ini menimbulkan beberapa masalah terkait dengan berkurangnya kesuburan tanah, ketergantungan terhadap pupuk yang sangat tinggi, ketergantungan yang sangat tinggi terhadap benih, berkurangnya spesies koloni lebah tertentu karena komoditas tanaman yang terlalu homogen, meningkatkan produksi karbon dioksida penyebab gas rumah kaca dan perubahan iklim, dan berkurangnya air bersih, lain sebagainya.

Masalah tersebut sangat kompleks dan saling berkaitan satu sama lain yang bisa mengancam keberlanjutan ekosistem. Dalam kasus Indonesia, produksi masif di sektor pertanian dan perkebunan dapat kita lihat dari luasan lahan mulai dari padi sawah, ladang, karet, dan kelapa sawit. Banyak sekali laporan masalah terkait dengan komoditas tersebut mulai dari rantai distribusi pupuk dan benih yang terhambat, nilai jual yang rendah, sampai efek dari fertilitas tanah yang berkurang akibat terlalu banyak terpapar bahan kimia.

Selain itu, dengan adanya diversifikasi, komoditas tanaman pangan tidak akan dimonopoli oleh salah satu produsen maupun distributor. Semua petani, baik bermodal kecil maupun besar akan mampu ikut serta dalam diversifikasi tanaman pangan. Sehingga, rantai ekonomi bisa berjalan dengan lancar tanpa adanya kasus penimbunan komoditas.

Dengan adanya diversifikasi tanaman pangan, proses alamiah alam dalam meregenerasi kesuburannya juga akan terjaga. Tanah akan mempunyai waktu yang cukup untuk meregenerasi dirinya sendiri secara alami. Selain itu, diversifikasi juga akan melindungi spesies tanaman yang terancam punah, sehingga berkontribusi dalam memelihara keanekaragaman yang ada di Indonesia.

Kiat Menyukseskan Diversifikasi Pangan Lokal dan Menjaga Keanekaragaman di Indonesia

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan dalam mendukung gerakan diversifikasi pangan lokal

1. Mulai dari diversifikasi pilihan makanan harian

Ada pepatah, dimulai dari diri sendiri, dimulai dari hal yang kecil. Maka langkah awal adalah dengan membuat kombinasi makanan harian. Jika biasanya dalam sehari 3 kali makan isinya nasi saja, maka selanjutnya bisa kita ganti dengan kombinasi pagi kentang, siang nasi, dan malam ubi. Jadi, tanpa ada slogan diet mulai besok pun, kombinasi makanan ini sudah bagian dari diet.

2. Mendukung UMKM yang bergerak dalam produksi olahan

Jumlah UMKM di Indonesia sangatlah banyak, namun rentan untuk gulung tikar. Oleh karena itu, sebisa mungkin mendukung para pelaku usaha UMKM lokal dengan membeli produk mereka. Terutama yang memakai komoditas tanaman pangan lokal.

3. Membeli produk organik lokal

Semakin banyaknya para penggiat vegan membuat kebutuhan produk berbahan dasar tanaman semakin tinggi. Karena itu, untuk mendukung keberlangsungan komoditas tanaman lokal, membeli produk organik buatan negeri sendiri sangat membantu sekali. Bisnis makanan dan kecantikan saling terkait dan berhubungan erat dengan rantai produksi mulai dari hulu ke hilir. Dengan membeli produk lokal, kita juga membantu kehidupan petani lokal.

4. Biasakan 3R (Reduce, Reuse, Recycle)

Plastik besar maupun mikroplastik merupakan ancaman nyata bagi lingkungan. Tak hanya untuk lautan yang bisa mengancam keberlangsungan hidup ekosistem laut, plastik juga bisa membahayakan ekosistem di darat. Jika tanah sudah dipenuhi oleh sampah plastik yang tidak terurai dalam waktu ribuan tahun, maka kualitas tanah akan menurun dan berdampak bagi kesuburan tanaman. Mengurangi penggunaan sampah plastik, menggunakan kembali plastik untuk kebutuhan lainnya, melakukan daur ulang bisa meminimalisir dampak dari penggunaan plastik.

Ada banyak keanekaragaman di negeri yang subur makmur ini. Kita lahir dan hidup di bumi yang penuh dengan rahmat. Oleh karena itu, bangga saja tanpa melakukan apa-apa ibarat ingin punya rumah bagus tapi tak mau mengurus. Lambat laun rumahnya akan kotor dan rusak.

Karenanya, menjaga dan melindungi kelestarian flora dan fauna adalah tugas kita sebagai warga negara Indonesia dan wujud dari rasa syukur kepada Allah SWT sebagai pemberi rezeki.