Memaknai Puasa Saat Pandemi

Gong Puasa Ramadhan sudah dipukul. Beberapa saudara Muslim sudah memulai aktivitas puasa Ramadhan sejak 2 April 2022. Pantas saja, sejak sore kemarin, pasar sangat penuh dengan para ibu yang berbelanja. Deretan kios daging pun tampak lebih ramai sampai meluah ke pinggir jalan. Alhamdulillah Ramadhan bisa saya alami lagi. Sebuah nikmat yang tidak ada duanya yang mengingatkan bahwa waktu begitu cepat berjalan. Ketika detik demi detik terlewatkan, puasa kali ini tak sama lagi. Ada banyak haru biru yang mengiringi makna berpuasa saat pandemi.

Memaknai Puasa Saat Pandemi

Memaknai Kata Lengkap di Masa Pandemi

Saya tak begitu memperhatikan dengan seksama apa yang berbeda, hingga satu hari saya menyadari ini. Hal yang hilang saat saya betul-betul mencari. Apa itu? Orang-orang terdekat yang tak lagi lengkap.

Jika dulu, di masa yang masih jauh dengan berita tipe virus yang berubah-ubah, saya hanya mensyukuri bahwa keluarga saya ada. Namun lengkap atau tidak itu bukanlah persoalan penting. Siapa yang akan mengira bahwa pandemi akan merenggut orang-orang yang saya kenal. Mengambil saudara yang begitu dekat atau tetangga yang begitu akrab.

Puasa dulu masih seputar saya mensyukuri bahwa setiap pertemuan adalah takdir dan perpisahan adalah konsekuensi pilihan. Namun saat pandemi masuk dan menjajahi setiap negara sampai ke pelosok desa jadi lain soal. Perpisahan yang tiba-tiba menjadi dengung yang mengejutkan. Seperti orang yang biasanya mendengar musik klasik lalu di tengah konser disuguhi heavy metal. Saya terkejut karena ada banyak kejadian yang tiba-tiba. Satu hari saya mendengar sanak famili masuk ICU, lalu esoknya sudah masuk pusara. Padahal hanya selang sebulan saya masih pamit sebelum memulai perjalanan. Hari lain saya mendengar kabar tetangga yang juga takmir mesjid berpulang. Kini setiap waktu shalat tiba, suara khasnya tak lagi terdengar.

Makanya, di tahun 2022 ini, puasa menjadi hal yang memiliki makna lebih dalam lagi. Ketika dulu perpisahan masih saya pahami sebagai konsekuensi pilihan, kini perpisahan benar-benar takdir yang tidak bisa dikontrol. Saya menjadi lebih sering mencari dan menikmati setiap pertemuan dan menghargai sebuah perpisahan.

Puasa Saat Pandemi Memaknai Keheningan

Tak ada yang salah dengan keheningan. Bahkan keheningan adalah obat terbaik untuk jiwa-jiwa yang resah. Kenapa shalat malam begitu nikmat saat sepertiga malam? Karena saat itu jiwa kita bisa bebas berbicara dalam hening dengan pencipta. Saat suara-suara dunia begitu jauh semuanya tampak nyata. Jaman sekarang masyarakat urban memaknai kata healing dengan pergi ke tempat-tempat sunyi seperti pedesaan atau pegunungan. Mereka mencari pelarian dari sekian banyak keributan yang selalu merelung keseharian: suara klakson, bos yang cerewet, musik yang volumenya keras, teriakan orang, dsb. Padahal healing terbaik adalah saat kita mendengarkan percakapan diri sendiri dengan Tuhan. Tenang, ini hanya opini saya, silahkan berbeda pendapat.

Lantas di masa ini keheningan juga merambah ke mesjid. Aturan penggunaan speaker yang menjadi perdebatan ada dimana-mana. Tak mengapakah? Ingatan saya kembali ke masa puasa saat di negeri sakura, Jepang. Kondisi negara Jepang yang menjunjung mindfullness alias mengedepankan kenyamanan orang lain membuat negara tersebut identik dengan kata sunyi.

Hampir di setiap fasilitas umum selalu ada aturan tidak boleh berisik. Contohnya saja seperti kereta, bis, taman, bahkan di lingkungan perumahan atau dalam apaprtemen. Makanya tak hanya toa atau speaker luar, aturan untuk hal-hal yang dasar seperti suara antar tetangga pun sudah diatur. Jadi, di Jepang mesjid tidak pernah kedengaran suara adzannya ke luar. Apakah hanya terjadi untuk mesjid saja? Oh tidak, semua tempat ibadah pun demikian.

Namun saya akui, keheningan itu lama-lama membuat bosan juga. Saat itu saya mulai mencari-cari suara adzan yang biasanya memanggil 5 kali sehari. Jadi saat di Indonesia ini pemakaian toa mesjid hanya untuk hal-hal yang urgen saja pastinya ada hikmah. Kita bisa memaknai keheningan dan benar-benar merindukan suara yang memang kita nantikan, yaitu panggilan shalat. Bedanya untuk magrib di bulan Ramadhan lebih istimewa karena artinya kita sudah boleh berbuka puasa.

Memaknai Keikhlasan Puasa Saat Pandemi

Menahan lapar dan dahaga sampai magrib mungkin hal remeh bagi orang yang terbiasa puasa. Tapi lebih dari itu, mengamalkan kata ikhlas saat berpuasa sangatlah kompleks. Bahkan para veteran puasa mungkin masih belajar memaknai kata ikhlas ini apalagi saat pandemi berlangsung.

Ada banyak orang yang kesulitan ekonomi di tahun berat ini. Tak sedikit orang yang depresi karena banyak kehilangan baik harta, keluarga maupun harapan. Semuanya berasal dari tantangan yang muncul saat pandemi berlangsung. Maka, keikhlasan menjadi jauh lebih tinggi standarnya di masa sekarang. Ikhlas dalam menerima dan menjalani apapun. Ikhlas dalam menerima hasil apapun. Bahkan ikhlas dalam memberi sesuatu. Kita jadi dipaksa untuk mengevaluasi dan mendefinisikan kembali makna ikhlas di masa sulit. Saya pun demikian. Akibat pandemi, maka saya pun harus kembali dan memperbarui makna ikhlas saat semua tak sesuai harapan.

Jadi, itulah sebagian kecil cara memaknai puasa saat pandemi. Saya pikir pasti masih ada banyak lagi makna dan hikmah yang bisa diambil saat melaksanakan puasa di masa pandemi ini.

Comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s