Indonesia,  Nature

Aksi Mitigasi Perubahan Iklim: Antara Menjadi Skeptis atau Bertindak Nyata

Selama beberapa dekade, perubahan iklim hanya dianggap sebagai isu. Sebagian menganggapnya basa-basi saat bertemu orang baru. Contohnya, “Hari ini cuaca panas ya” atau “Nampaknya bulan ini badai semakin tak karuan”. Faktanya cuaca dan iklim dua hal yang berbeda. Saya sempat membahas Perbedaan Iklim dan Cuaca di beberapa postingan lalu. Seiring dengan perubahan iklim yang diklaim menjadi krisis iklim, banyak reaksi bermunculan. Aksi mitigasi perubahan iklim bahkan sempat menjadi keseruan tersendiri di dalam acara gathering #EcoBloggerSquad (EBS) pekan lalu. Apakah pasca gathering hasilnya menambah skeptis atau malah mendorong tindakan nyata terhadap perubahan iklim? Mari saya mulai dengan sedikit cerita.

Apakah Perubahan Iklim Benar-Benar Terjadi?

Aksi Mitigasi Perubahan Iklim-catatansicikal.com

Hasil Survei di atas menarik bukan? Ternyata masih ada yang berpendapat bahwa iklim tidak mengalami perubahan. Kalaupun ada, bahkan orang Indonesia sendiri paling banyak mengatakan bahwa manusia ga ada kaitannya dengan hal tersebut. Dengan jumlah penduduk lebih dari 270 juta jiwa, tentunya pendapat ini penting untuk kita amati. Jika representasi pendapat penduduk Indonesia seperti itu maka pantas saja selama ini Indonesia masih berkutat dengan isu lingkungan. Sampah, kebakaran, kabut asap, dan juga emisi karbon adalah beberapa yang kerap didiskusikan.

Padahal Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) yang merupakan bagian dari PBB sudah mengeluarkan laporannya secara rinci setiap tahun. Laporan IPCC (2018) menyebutkan kenaikan suhu bumi sudah harus direm di bawah 1,5 derajat Celsius untuk menghindari dampak lebih besar. Apa itu? Kelaparan, bencana alam dan kemiskinan.

Rupanya walau perubahan iklim masih ada yang menganggap mitos, data historis menunjukkan fakta-fakta yang relevan. Pada tahun 2016, kenaikan suhunya terbilang anomali dan menjadi tahun terpanas dalam kurun waktu 39 tahun. Pada tahun yang sama kabut asap sedang mengancam Indonesia dan negara tetangga.

Bagaimana dengan air permukaan laut? Baru-baru ini patahan baru mulai kembali terlihat di glasier Antartika sebesar negara Inggris. Jika longsoran terjadi, diprediksikan kenaikan permukaan laut tahunan akan naik sebesar 4 %. Bisa dipastikan pulau-pulau kecil akan banyak yang hilang akibat terendam. Nah, sebagai negara kepulauan, Indonesia pastinya harus mulai waspada.

Dalam beberapa berita mengenai wilayah pesisir, air tanahnya sudah mulai bercampur dengan air laut. Karenanya, prediksi mengenai kelangkaan air bersih akibat perubahan iklim pun sangat mungkin terjadi. Malah di 2025, diprediksikan bahwa Indonesia akan mengalami kelangkaan air bersih. Sewaktu air PDAM macet dan terpaksa membeli air galonan untuk mandi saja rasanya ga betah. Apalagi kalau harus mengalami kesulitan air dalam waktu lama.

Berhenti Skeptis, Mulai Mitigasi dari Hal Terkecil

Berkaca pada data dan fakta, perubahan iklim memang sedang berlangsung dan semakin hari percepatannya tidak bisa dibendung. Pada 2050, dampaknya diprediksikan luar biasa berat. Seiring dengan pertambahan populasi penduduk dunia dan kebutuhannya yang membludak, otomatis bumi semakin digenjot. Lahan yang mestinya menjadi resapan air dialihfungsikan ke lahan pemukiman. Perkebunan yang melahap hutan tak bisa dihindarkan. Konsumsi energi tidak lepas dari bahan bakar fosil dan lautan pun sudah mulai memperlihatkan fenomena yang menyedihkan. Apa sobat semua tahu kalau the Great Barrier Reef mulai rusak akibat pemanasan global?

Maka dari itu YUK STOP BERSIKAP SKEPTIS TENTANG PERUBAHAN IKLIM. Kita, manusia, bisa memutuskan apakah bumi yang menjadi tempat hunian ini akan dimanfaatkan dengan bijak atau dieksploitasi sampai rusak.

Apa Yang Bisa Kita Lakukan Sebagai Aksi Mitigasi Perubahan iklim?

Untuk mengerem kondisi perubahan iklim yang sangat terpampang nyata itu, ada banyak hal yang bisa kita lakukan. Selain hal-hal yang bisa dilakukan secara individu, sebagai bagian dari #TeamUpforImpact ada juga hal lain yang bisa kita upayakan:

1. Dukung Setiap Aksi Perlindungan Lingkungan Melalui Vote atau Kontribusi Nyata

Suara kita sekecil apapun sangatlah berarti. Mulai suarakan hal-hal yang berkaitan tentang lingkungan melalui media apapun. Kita bisa membuat flyer soal dampak negatif memakai plastik, misalnya, melalui instagram, youtube, tiktok, dsb. Bisa juga bergabung dengan petisi mengenai isu lingkungan. Ketika satu suara berkumpul maka gaungnya akan semakin besar. Ini juga akan menjangkau para pemangku kebijakan dalam ranah yang lebih luas dan efektif.

2. Kenali dan Ganti Konsumsi Produk yang Tidak Ramah Lingkungan

Mulai dari sekarang yuk semakin peduli dengan kandungan produk yang kita konsumsi. Contohnya saja saat membeli detergen, apakah isinya mengandung bahan yang bisa membuat air semakin tercemar. Ketika membeli bahan aerosol sebisa mungkin mencari yang tidak ada kandungan CFC nya. Seperti yang diketahui CFC merupakan senyawa yang berkontribusi pada penipisan lapisan Ozon bumi.

3. Menolak Kebijakan Pemerintah yang Tidak Ramah Lingkungan

Pemerintah adalah pihak yang berpengaruh dan kuat dalam menjalankan suatu aksi perubahan iklim. Dengan regulasi yang dibuat, akan bisa menentukan apakah lebih berpihak pada kelestarian lingkungan atau tidak. Nah, tugas kita adalah mengawal setiap kebijakan yang akan dikeluarkan oleh pemerintah. Dukung jika baik dan tolak jika akan membuat lingkungan kita semakin rusak. Semakin banyak yang bersuara, pemerintah pun pasti tidak akan memutuskan secara sepihak.

4. Bergabung dengan Komunitas yang Bergerak Aktif dalam Perlindungan Lingkungan

Ada banyak sekali komunitas yang bergerak aktif dalam perlindungan lingkungan. Salah satunya Indonesia mempunyai Hutan Itu Indonesia (HII) dan Madani Berkelanjutan. Beriringan dengan gerakan positif akan semakin menguatkan semangat kita dalam mewujudkan bumi yang lestari. Bagaimanapun, perubahan iklim tidak bisa diperangi sendirian. Kita harus bergandeng tangan dengan orang yang sama-sama peduli.

5. Bijak Memilih Pemimpin yang Pro Lingkungan

Kebijakan tidak akan terwujud tanpa ketok palu dari pemimpinnya. Oleh karena itu, pemimpin yang tegas dan pro pada perlindungan bumi inilah yang mesti kita perhatikan. Di samping ekonomi yang juga digenjot, pemimpin yang pro lingkungan mempunyai visi misi berkelanjutan untuk generasi berikutnya.

Melindungi Hutan, Melindungi Bumi

Indonesia mempunyai luas hutan 3 kali lebih besar dari negara Malaysia. Hutan hujan tropisnya masuk ke dalam 3 besar dunia setelah Brazil dan Republik Demokratik Kongo. Dengan keankearagaman hayati ke 2 terbesar di dunia, Indonesia menjadi salah satu andalan paru-paru dunia. Hutan Indonesia menjadi tempat pertukaran karbon dioksida yang menjadi kontributor utama emisi karbon. Jadi saat hutan Indonesia mengalami kebakaran, yang merugi tidak hanya warga Indonesia tapi juga warga global.

Nah, selama ini yang kita ketahui hutan hanya sumber penghasil kayu gelondongan untuk keperluan konstruksi. Padahal ada banyak sekali manfaat hutan baik kayu maupun non-kayu loh. Hutan adalah supermarket terbesar. Kita bisa manfaatkan hasil hutan lainnya seperti madu, rotan, getah, bambu, dsb. Madu hutan malah mempunyai kandungan lebih baik karena terlahir dari lingkungan alami.

Selain itu, masih ada juga masyarakat yang bertempat tinggal di dalam maupun sekitar hutan sebagai penopang kehidupan ekonominya. Contohnya Suku Anak Dalam di Provinsi Jambi sangat bergantung dengan hutan untuk tempat tinggal dan mencari hasil hutan untuk dijual. Selebihnya hutan sangat berperan dalam penyediaan sumber air, penyimpan karbon, dan tempat healing bagi para perindu sunyi dan suara alam.

Dalam gathering #EcoBloggerSquad generasi ke 2, Hutan Itu Indonesia mengajak orang-orang yang peduli dengan Bumi berkeberlanjutan untuk beraksi melindungi hutan. Apa saja Call to Action yang bisa dilakukan?

Pertama, Ayo ceritakan dan sebarkan informasi mengenai pentingnya hutan pada semua orang. Masih banyak yang tidak paham aksi apa yang bisa dilakukan sebagai tindakan melindungi hutan. Sejauh ini pemahaman kita hanya soal pentingnya hutan, tapi aksi nyata masih sedikit sekali. Mulai dari diri sendiri, orang terdekat dan orang lain. Kita bisa coba dengan membeli produk-produk hutan yang saat ini banyak dipasarkan. Misalnya madu hutan, kerajinan yang berasal dari hutan, atau langsung terjun sebagai ranger yang memantau hutan dari dekat.

Kedua, Semarakkan Wisata Hutan. Hutan bisa menjadi objek wisata yang menghasilkan secara ekonomi. Ini merupakan peluang besar bagi pemerintah jika bisa bekerja sama dengan swasta untuk mengelola wisata hutan yang aman dan nyaman. Wisata yang ditawarkan tidak hanya kesenangan tapi juga edukasi mengenai hutan dan kepentingannya untuk generasi berikutnya.

Ketiga, Donasi Adopsi Hutan. Di Bengkulu terdapat Pak Nasiun yang menjaga Pohon Asuh, berupa pohon durian seluas 1677 Ha. Rupanya pohon durian bisa menyerap karbondioksida sekitar 1,42 ton per tahun! Luar bukan? Ternyata adopsi hutan juga sangat penting. Jika menjadi ranger hutan tidak memungkinkan, dengan berdonasi pada pihak-pihak yang bekerja keras dalam melindungi hutan sudah sangat berarti.

Keempat, Konsumsi Hasil Hutan Bukan Kayu. Stop eksploitasi hutan hanya untuk kayu gelondongan. Keuntungan ekonomis bisa dari hal yang lainnya seperti madu, rotan, buah hutan, dsb. Selain mengurangi ketergantungan pada pertanian homogen, mengkonsumsi hasil hutan membantu perputaran ekonomi warga lokal terutama yang tinggal di sekitar hutan.

Kelima, Merayakan Hari Hutan Indonesia. Setiap tanggal 7 Agustus diperingati sebagai Hari Hutan Indonesia. Hari dimana kita mengingat apa yang sudah hutan Indonesia berikan pada kita. Mulai dari udara bersih, sumber air yang berlimpah, akar kebudayaan, pangan dan obat-obatan. Kita bisa bergabung dalam aksinya di harihutan.id.

Nah, sobat. Setelah mengikuti acara gathering dari EBS rasanya saya sendiri tak percaya kalau bumi sudah sekritis itu. Merasa skeptis dan berpura-pura tidak tahu tidak menyelesaikan masalah. Beraksi kecil secara berkelanjutan lebih baik daripada tidak sama sekali. Setuju?

12 Comments

  • gusti yeni

    Perubahan iklim pemanasan global sudah menjadi issue dunia. Kita harus peduli tentang hal tsb mulai dr sini sendiri dg memilah sampah sampai hemat energi untuk keberlangsungan masa depan anak cucu kita nanti.

  • Monica Rasmona

    Jadi teringat pasca banjir bandang yang terjadi di Garut beberapa tahun lalu, selama seminggu lebih pdam di rumah tidak mengalir. Masih terbayang rasa tidak nyaman dan frustrasi kala itu. Itu “baru” seminggu, tak terbayang kalau itu terjadi dalam waktu yang lama.

  • Novianti Islahiah

    Nah ini. Langkah kecil dari diri kita untuk bisa menjaga bumi kita ini. Banyak banget yang saya masih suka lakukan, padahal gak betul. Kayak ngebiarin colokan charger hp selalu tertancap di stop kontak dlk

  • Yustrini

    Cuaca sekarang memang ga menentu. Kadang panas lalu hujan deras. Bencana juga ada di mana-mana. Kalo dipikir betul juga, kita perlu pemimpin yang pro lingkungan supaya kerusakan alam tidak makin parah.

    • Maria tanjung Sari

      Gak kebayang kalau perubahan iklim makin parah, mungkin kita akan kesulitan mendapat sumber energi di bumi ini.

  • Leha

    Setujuh banget kakak, mulai dari sekarang yuk kita mencintai alam ini hutan, laut dan smua isinya. lakukan secara perlahan dan pasti dgn begitu kita sdh berusaha ikut menyelamatkan bumi.

  • Vicky Cahyagi

    Perubahan iklim secara tidak disadari ditandai dengan seringnya terjadi cuaca tidak jelas dan ekstrem. Siang cerah malam berubah seketika menjadi hujan badai disertai petir. Perlu upaya untuk menjaga alam ini agar rusaknya tidak semakin parah

Comments

Translate ยป
error: Content is protected !!
%d bloggers like this: