Japan,  Knowledge,  Review,  Tips,  Travel,  Traveling

Berburu Spot Asyik di Enoshima (2)

Perjalanan di Pulau Enoshima masih berlanjut. Sudah hampir lebih dari setengah hari saya dan teman berada di pulau mungil ini namun belum semua spot kami singgahi. Tujuan berikutnya adalah Iwaya Cave dan beberapa destinasi lainnya.

Iwaya Cave

Lorong pertama di Iwaya Cave (Sumber: Dok. Pribadi)

Iwaya cave letaknya persis menghadap lautan. Sekitar 1500 tahun lalu, sebuah kuil dibangun di Iwaya cave dan menjadi tujuan perjalanan spiritual para biksu dan samurai. Awalnya terdapat jalan yang lebih mudah dalam menjangkau Iwaya Cave, namun karena adanya erosi dan juga gempa bumi menjadikan pengelola pulau membangun jalan setapak yang lebih kokoh.

Kini, untuk menuju ke Iwaya Cave ternyata cukup menguras tenaga. Selain menyusuri jalan setapak berliku dan undakan yang menurun, kita juga harus meniti anak tangga dengan hati-hati. Jalanannya yang sempit membuat langkah kita harus tertahan dan saling mengalah saat ada pengunjung yang datang dari arah berlawanan.

Bagi yang kakinya tak kuat menempuh jalan tersebut, terdapat juga perahu yang bisa mengantarkan sampai ke mulut gua. Hanya saja, saat cuaca sedang tidak baik, gelombang laut cukup menakutkan untuk sekedar ditempuh oleh perahu. Selain itu, biaya sekali angkutnya juga cukup lumayan.

Sesampainya di mulut gua, terdapat petugas yang sigap dengan protokol kesehatan. Karena Iwaya Cave termasuk dalam Eno Pass, maka saya tinggal masuk saja dengan santai.

Di sepanjang lorong pertama, kita akan disuguhi oleh papan informasi mengenai gua termasuk sejarah pembentukan pulau Enoshima yang kisahnya diwarnai oleh penaklukan seekor naga yang meneror warga. Di sebelah kanan kita bisa melihat sejenis batu prasasti yang terdapat di kolam air dangkal. Saya tak sempat memastikan batu apa itu.

Lalu, terdapat lorong bercabang dalam gua tersebut. Simbol anak panah dan juga pos penjaga sigap memastikan arah mana yang akan kita ambil terlebih dahulu. Jika kita mengambil cabang kiri dan mengikuti jalannya, maka kita bisa menemukan patung para dewa dewi pulau ini. Sementara di sebelah kanan terdapat patung dewa Amaterasu yang merupakan dewa matahari dan dipercayai sebagai nenek moyang kaisar.

Karena saya mengambil lorong sebelah kiri terlebih dahulu, maka setelah patung dewa dewi saya lewati, di ujung lorong terdapat patung naga. Naga ini merupakan makhluk yang dalam kisah Pulau Enoshima menjadi sumber teror sampai akhirnya dewa Benten menaklukan naga tersebut. Setelah takluk, naga tersebut kini dipercaya sebagai penjaga para nelayan Enoshima.

Karena ada banyak turis yang datang dan lorong cukup sempit, maka saya tak berlama-lama di lorong pertama. Berlanjut ke lorong ke dua, selain ada patung dewa lainnya, di ujung lorong terdapat juga sebuah pintu masuk lorong lainnya yang dipagari dan sudah tidak boleh dilewati. Terdapat informasi yang menerangkan bahwa dahulu kala lorong tersebut terhubung dengan Gua Es Narusawa (Narusawa Ice Cave) yang terletak di kaki Gunung Fuji. Menarik bukan?

Karena saya tak mau menghabiskan sisa hari di dalam gua, perjalanan dilanjutkan ke spot berikutnya. Sebelum itu, kami harus mencari kudapan dan air minum saking hausnya. Jalanan setapak yang sebelumnya mudah dilalui kini berbalik menjadi undakan tangga yang tinggi dan bekelok. Kami harus mendaki satu per satu anak tangga dengan sesekali mengatur napas. Padahal di depan kami terdapat pengunjung dengan high heels yang cukup tinggi dan tak terlihat sedikitpun keringatnya bercucuran. Benar-benar kalah telak wkwkwk. Makanya, saya benar-benar tidak menyarankan spot gua ini untuk para lansia, pengunjung yang mempunyai masalah di persendian atau pengunjung seperti saya yang mager dalam hal pendakian.

Enoshima Daishi

Sumber: kanpai-japan.com

Dalam perjalanan pulang dari gua ini, saya melewatkan Enoshima Daishi. Bangunan tersebut merupakan sebuah kuil Budha modern yang pertama kali didirikan di Pulau Enoshima selepas periode Meiji. Sebelumnya kuil-kuil di pulau tersebut dimusnahkan dan akhirnya dibangun kembali pada masa modern tahun 1993. Saya juga melewatkan Enoshima Aquarium karena mungkin isinya tak jauh beda dengan aquarium pada umumnya. Apalagi rasa haus sudah tak bisa dibendung.

Beruntung terdapat kios makanan yang tetap buka meskipun pandemi. Sayangnya, saya harus melambaikan tangan pada kios makanan berat yang menggoda dan es krim yang menggugah selera karena non-halal. Padahal ada Shirasudon yang sangat memanjakan lidah. Paling tidak, Vending machine sudah saya jajal sejak pertama kali menemukan jalan mendatar. Akhirnya saya mencoba makanan khas Enoshima berupa tako senbei (kerupuk gurita) seharga 350 yen yang dicetak langsung dan juga segelas es jeruk. Suara “cesss….” saat tutup pres senbei diletakkan sangatlah menarik untuk dilihat. Dengan adanya gazebo kecil, deretan kedai tersebut menjadi favorit pengunjung yang ingin bersantai, terutama pengunjung yang baru kembali dari Iwaya Cave. Rasa senbeinya? Tentu saja sangat “mengguritakan” karena tidak terasa ada bumbu tambahan selain gurita dan tepung saja. Namun tetap saja cukup enak di lidah saya.

Samuel Cocking Garden dan Sea Candle

Waktu sudah mulai beranjak sore saat saya menuju ke Samuel Cocking Garden. Saya tak terlalu tertarik menjelajahi tamannya karena tujuan akhir saya adalah berburu sunset di Sea Candle. Sebuah menara mercusuar. Awalnya saya mempertanyakan dimana letak kemiripannya dengan sebatang lilin, sampai waktunya pulang nanti saya melihat Sea Candle ini dari kejauhan di kegelapan malam, barulah saya paham maksud dari Sea Candle tersebut. Di sini saya bisa menikmati keindahan Enoshima dari ketinggian. Dari kejauhan terlihat kapal dan yacht sedang berangkat beriringan dengan teratur. Langit, lautan dan keindahan pulau terasa menyatu dalam harmoni. Saya sampai lupa kalau perjalanan di pulau ini hanya satu hari.

Untuk mencapai puncak Sea Candle sebenarnya ada dua cara. Kita bisa menggunakan anak tangga secara gratis dengan resiko naik betis saking capeknya atau menggunakan central lift dengan membayar tambahan biaya beberapa yen. Pada akhirnya, banyak pengunjung lebih memilih naik lift apalagi bagi pengunjung yang baru kembali dari Iwaya Cave.

Begitu hari mulai mendekati senja, cahaya lampu warna warni mulai terlihat di Sea Candle. Banyak pengunjung sudah mengambil tempat duduk santai yang disediakan di pelataran bawah. Diiringi dengan syahdunya alunan musik dan langit oranye cantik sore hari, Enoshima begitu cantik saat matahari terbenam. Dalam penghujung hari itu saya bergumam, Tuhan sehatkankanlah selalu dan permudahlah langkah ini agar bisa kembali menikmati keindahan ciptaanMu di lain waktu.

Tak berlama-lama, kami pun bergegas kembali ke stasiun untuk menuju Tokyo. Perjalanan satu hari di Enoshima memang belum sempurna, namun pengalaman ini tetap istimewa.

7 Comments

Comments

Translate »
error: Content is protected !!
%d bloggers like this: