Japan

Destinasi Wisata di Fukuoka Part 2 – Mojiko Retro

Tak lengkap rasanya jika ke Fukuoka kita tak berunjung ke Mojiko Retro. Salah satu distrik di kota Kitakyushu dan berhadapan dengan kota Shimonoseki di prefektur Yamaguchi. Kereta dari Tobata menuju Mojiko Retro melewati lima stasiun dengan harga tiket sebesar 370 yen.

Terlihat dari namanya, Mojiko Retro mengingatkanku pada kota tua yang ada di daerah Jakarta. Sepanjang jalan mulai dari stasiun Mojiko sampai ke pelabuhan kental sekali dengan nuansa Jepang zaman dahulu.

dsc02601

 

Sejak akhir abad 19,  stasiun Mojiko telah beroperasi di Pulau Kyushu sedangkan kapal feri yang menghubungkan antara Mojiko dan Shimonoseki beroperasi pada tahun 1901. Antara Mojiko Retro dan Shimonoseki juga terdapat terowongan bawah laut loh. Karena terlalu jauh dan harus ditempuh dengan berjalan kaki kami mengurungkan niat mencobanya.

dsc02744

toilet dan pancuran air ini masih asli zaman dahulu

Keluar dari stasiun Mojiko menuju area utama kita akan ditemani oleh banyak lukisan hasil anak-anak setempat, hampir semuanya bercerita tentang Tako (gurita). Mungkin karena daerah Mojiko ini dekat sekali dengan pelabuhan dan merupakan sentra ikan sehingga banyak lukisannya mengisahkan tentang ikan terutama gurita. Selain itu kita juga bisa menemukan cap stempel dengan ciri khas mojiko. Memang setiap daerah di Jepang mempunyai ciri khas masing-masing, sehinga biasanya para pelancong yang hobi traveling akan mencap buku perjalanan mereka. Hal ini dilakukan baik turis domestik maupun mancanegara sebagai bukti bahwa mereka pernah berkunjung ke tempat tersebut. Biasanya orang-orang ini  dinamakan para pengumpul cap.

DSC02608.JPG

kayak sedih gitu ya guritanya

Pelabuhan Mojiko berjarak 1 km ke area kota dan sepanjang jalan menuju pelabuhan kita akan disuguhi bangunan yang berdiri cantik mengingatkan saya pada area kota tua dengan versi terawatnya. Terdapat juga bangunan baru seperti hotel dan bangunan komersil lainnya.

20160923_154953.jpg

mamaku lagi foto cantik depan restoran terapung

Kami juga sempat melewati rumah yang katanya pernah ditempati oleh Albert Einstein sewaktu tinggal di Jepang. Karena untuk masuk harus bayar lagi jadi kami cukup memuaskan diri saja foto di depan rumahnya hahaha….

20160923_154405

Sepanjang pelabuhan juga terdapat kafe dan restoran yang menyediakan makanan khas dan camilan. Kita bisa menikmati makanan sambil memandang keindahan kota. Aku dan keluarga mencoba takoyaki disana meskipun kata adikku ada yang lebih enak di daerah Hakata. But it was not a big deal, we need to explore, right?

DSC02648.JPG

Sebetulnya ada banyak titik populer yang ada di Mojiko retro tapi karena waktu kami terbatas kami tidak bisa mengeksplor semuanya. Jadi cukup aku rangkum disini saja yang yang pernah kami lewati atau dapat informasi dari orang sekitar.

  • Museum Sejarah kereta api Kyushu; katanya sih terdapat miniatur kereta api dan kereta api yang dipakai saat sejak abad 19
  • Old O.S.K. Lines Ltd. Buildings ; sejenis kantor maritim yang dahulunya dipakai untuk kegiatan pelabuhan
  • Ringer Lloyd’s Agency
    DSC02661.JPG
  • Kaikyo Plaza,menyediakan suvenir dan restauran

DSC02624.JPG

Salah satu yang menjadi perhatianku adalah adanya pengamen di sana yang notabene sudah lansia namun permainannya mantap. Pakai flute teman – teman. Karena kata adikku tidak sembarang orang yang bisa mengamen di Jepang. Harus berizin dan demo terlebih dahulu ke pihak yang berwenang. Selain itu, jika kita niat memberi uang pada mereka, sebaiknya kita mendengar musik mereka sampai selesai, karena sejatinya mereka adalah performer/artis/seniman yang bukan pengamen ala-ala kita yang pakai kecrekan beras dengan lagu seadanya lantas langsung minta uang.

DSC02654.JPG

spot para seniman jalanan, alunan flutenya harmonis dengan pemandangan sekitar

Di sekitar  kota juga terdapat beberapa orang dengan seragam khas berdiri di samping kendaraan sejenis becak, namun bedanya kendaraan tersebut ditarik dengan tangan. Awalnya saya kasihan karena tak satupun turis yang berminat naik becaknya. Tapi usut punya usut adik saya berbisik halus kalau mereka sebetulnya pegawai yang digaji negara dari dinas pariwisata, jadi ada tidaknya turis ga ngaruh ke pendapatan bulanan mereka. Keuntungannya kalau naik, kita bisa diberi banyak info sambil diajak keliling kota Mojiko, semacam tour guide  gituuuh.

 

DSC02644.JPG

penarik becak khas zaman dulu

masih banyak yang aku mau bagi..tapi jam disini sudah sudah menunjukkan pukul 24.00 waktu setempat atau 22.00 WIB. Kulanjut nanti lagi yaaa..ceritanya (to be continued…..)

 

 

Categories: Japan, Review, Tips, Traveling

Tagged as: , , , ,

3 replies »

  1. Great! Paling senang baca cerita jalan-jalan begini, masyaAllah, :). Ini visa turis? Jadi ke sana untuk jalan2? Mbak kirain lagi kuliah. Bikin postingan tentang biaya juga donk, berapa habisnya untuk ke sana, penginapan, makan dll.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s