Indonesia

Coba Suspension Bridge Asal Sukabumi Yuk

Bagaimana liburan teman-teman kemarin? Cukup panjang bukan dan cukup memuaskan untuk bisa jalan bareng keluarga. Eits..tapi hawa lebaran yang luar biasa disuguhi makanan berlemak ini juga bikin dilema. Nah karena itu biar badannya ga klewer-klewer sehabis lebaran, paling enak kalau jalan ke tempat yang bisa menguras energi. Salah satunya ya Suspension Bridge ini yang asalnya dari Sukabumi, Jawa Barat ^_______^

Pastikan saja datang ke sini ga di hari libur karena super duper crowded. Mungkin juga efek baru dibuka kali ya jadi antrian bak mau dapat beras raskin aja. saya sampai kasihan sama yang udah sepuh karena harus berdiri cuma buat nunggu nyebrang. Tapi pegawai yang sigap mampu mengatasi kerumunan yang memang dipatok 40 orang setiap kali mau nyebrang jembatan. Akhirnya setelah antri hampir 45 menit saya pun kebagian.

Tiket masuk ke Suspension Bridge ini Rp 50 ribu dan ada diskon 50 % bagi yang punya KTP kecamatan Cisaat. Tiket tersebut sudah meliputi tujuan wisata yang memang ada di sekitarannya seperti situ gunung dan Curug Sawer. Dikarenakan masih baru, maka penggunaan jembatan ini tidak setiap saat dibuka. Ada waktu-waktu dimana jembatan tersebut ditutup untuk dilakukan pemeliharaan.

Untuk menuju Jembatan, kita diharuskan berjalan kaki selama kurang lebih 15 menit dengan kecepatan biasa. Saat sampai di Camping Ground, kita bisa menemukan pondok yang didalamnya sudah disediakan minuman gratis. Waktu kemarin dapatnya wedang jahe dan kopi. Jamuan ini cuma sekali saja. Jadi setelah pakai jembatan dan kembali lagi kita tidak akan dapat jamuan yang ke dua. Di camping ground juga kita bisa menemukan restoran yang didalamnya terdapat penampilan musik tradisional lengkap dengan bajunya. O iya, sebetulnya meja dan kursi diperuntukkan bagi para wisatawan yang makan di restoran, tapi kemarin kami ikut duduk untuk menikmati sajian musik saja tidak ada masalah tuh. Selain itu, di atas dekat camping ground ada mushola. Jadi tak perlu khawatir soal tempat shalat.

 

Dengan ketinggian 85 meter di atas permukaan laut dan panjang kurang lebih 250 meter, Suspension Bridge Sukabumi ini menjadi jembatan gantung terpanjang di Indonesia. Tentu saja waktu berjalan jembatannya goyang-goyang. Ada rasa deg degan apalagi petugas selalu memperingatkan kalau pengunjung tidak boleh lari ataupun menggoyang-goyangkan jembatannya. Padahal, dengan pengunjung di hari libur lebaran waktu itu, tidak bisa tidak untuk ga goyang. Jembatan dengan berat yang tidak seimbang  di sebelah kanan membuat saya was was apalagi saya mempunyai sedikit rasa ga pede kalau di tempat tinggi. Eh eh..tapi mama saya jalan dengan lancarnya loh. Saya panggil panggil buat tunggu serempak mama saya sudah sampai duluan :’D.

Sampai di ujung, lanjutkan lagi perjalanan kita karena masih ada tempat lain yang sangat worth it untuk dikunjungi. Tidak lain dan tidak bukan adalah Curug Sawer dengan segala perjuangannya. Karen menuju tempat ini tidaklah dekat. Dengan kurang lebih 33 undakan yang setiap undakannya ada 15 anak tangga, bisa dipastikan jalan menuju ke Curug adalah jalan yang penuh tekad. Jika datang tidaklah mengandalkan tenaga seberapa saat kembali ke jembatan kita harus mendaki.

Tapi semua akan terbayarkan dengan air curug yang sangaaat jernih dan dingin. Bagi yang bawa baju ganti alangkah baiknya mencoba untuk njeburrr dan berbasah-basah ria karena sayang banget kalau jauh-jauh tidak mencoba air Curug Sawer yang sangat bening ini.

Jalan pulang sebetulnya ada alternatif menggunakan ojek ke Cinumpang. Namun lebih jauh lagi dan jalannya belum beraspal. Membayangkan harus duduk di jok motor sambil terpental-pental saya pun mengurungkan niat memakai jasa ojek. Mama saya yang punya sakit lutut juga sekata, awalnya beliau mau pakai ojek. Namun membayangkan sakit sendi setelahnya iapun bertekad pulang dengan mendaki. Sebetulnya tak tega tapi mau bagaimana lagi beliau sangat semangat luar biasa. Alhamdulillah tidak ada kejadian lutut macet dan mama saya berhasil menaklukan pendakian yang cukup curam dan masih gesit saat melewati jembatan untuk kembali pulang.

Pukul 17.00 akhirnya kami selesai mengitari sekitaran jembatan dan Curug Sawer. Oiya untuk makan jangan lupa bawa tikar karena bisa lebih leluasa untuk makan bersama. Jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihan. Makan boleh asal ga boleh nyampah. Kabut sudah mulai naik dan bagi saya yang harus bonceng pakai motor pastinya tidak mau terjebak kabut. Akhirnya kami pun segera pulang menuju rumah dengan segala kelelahan namun juga kesyukuran karena sekali lagi Allah memberi kesempatan bagi kami untuk menapaki bumiNya.