Opini

Di 2018, Indonesiaku Pasti Bisa!

Indonesia, bagaimana mungkin aku lupa dengan keberadaanmu. Dari sejak aku dilahirkan di bumiNya, engkau telah bernama Indonesia. Dikisahkan kepadaku bagaimana engkau bermula. Dari tumpahan darah pahlawan yang berisi harapan dan masa depan. Dirintis dengan banyak perjuangan orang-orang pilihan. Ditempa dengan beribu-ribu cobaan, rintangan dan tantangan. Dan dirimu tetap bernama Indonesia.

Ragamu, Indonesia. Begitu indah terbentuk dari tahun ke tahun. Karena engkau dilahirkan dengan keelokan yang luar biasa. Namun, apakah jiwamu tetap sama seperti saat dengungan proklamasi diperdengarkan? Dalam 73 tahun banyak hal yang terjadi. Peristiwa demi peristiwa yang menjadikanmu belajar banyak kata. Belajar mendewasa. Belajar menjadi pribadi tangguh dalam raga dan jiwa. Aku melihatmu terpuruk dan juga bangkit bersamaan di tahun 1998. Lalu perubahan menjadi lebih tak terelakkan. Tubuhmu berwarna lebih dari satu rupa. Dari Pulau We sampai ke Papua. Namun bukan hanya soal yang bisa dilihat mata saja berbeda-beda. Warna-warna itu beragam mulai dari nilai dan pemikiran. Dalam dirimu dengungannya seolah tak terhentikan. Kadang sentuhan sedikit dari orang yang tidak bijak membuatmu panas. Kadang engkau terluka dan di sebagian anggota tubuhmu berdarah-darah. Lalu engkaupun mulai mempelajari perbedaan. Tentang bagaimana warna-warna tadi dilukiskan agar menjadi indah. Kemudian, tentang kebaikan dan keburukan yang semakin hari kadang semakin sulit dibedakan. Namun, ketegaran jiwamu mulai tertata seiring dengan lapangnya dirimu dalam memaafkan. Engkau, Indonesia, serupa gadis yang semakin elok setelah patah hati berkali-kali. Parasmu cantik karena sudah memaknai rasa kecewa.

Dan di antara semua perasaan yang pernah menyelimutimu, keraguan adalah musuh yang bersembunyi di balik hati para penakut. Sebagian menyebutmu sebagai lahan percekcokan, setiap kali  agama dikedepankan. Tapi ada satu hari dimana semua keraguan itu sirna. Di kala lautan manusia bersatu dalam Aksi 411, langkahmu wangi memusnahkan prasangka. Di dalam dirimu masih ada kedamaian. Berlindap menjadi keyakinan dari satu langkah ke langkah yang lain atas nama silaturahim.

Aku juga menemukanmu tersenyum manis dalam baju olahraga. Di bulan Juli ini, aku melihat dirimu begitu damai dalam persatuan Viking dan The Jak yang terkenal tak mau berdampingan. Masih ada harapan. Dalam dirimu masih banyak yang mengusung agar engkau selalu harum. Banyak yang mulai melangkah menjadi lebih ramah. Tak hanya pejuang olahraganya namun juga para pendukungnya. Dan entah kenapa aku mulai merasa lega, setelah hitammu di perhelatan politik kemarin membuatku sesak. Bahkan kemacetan Jakarta masih lebih baik dibandingkan percekcokan di kolom komentar. Tentu saja itu akan selalu terjadi lagi. Namun aku yakin, semua yang ada di dalammu semakin bijak dari hari ke hari. Belajar mendengar sebelum berbicara, menyimak sebelum berkata, memahami sebelum memberi solusi. Dan dirimu tetap Indonesia.

Di 2018 nanti, gelombang tantangan dan rintangan akan semakin besar. Bahkan urusan keuanganmu  belum juga selesai. Ramalan krisis sepuluh tahunan bahkan menghantuimu tanpa bilang-bilang. Namun, kamu tetap tersenyum karena pertumbuhanmu sedang diupayakan oleh orang-orang pilihan. Di dalammu masih banyak para pahlawan yang tak lagi memegang bambu runcing sebagai senapan. Namun para penentu kebijakan dan para ahli di semua bidang. Di 2018, aku meyakini engkau, Indonesiaku, akan lebih baik dari tahun sebelumnya. Engkau pasti bisa! Karena dirimu terlahir bukan dari perjuangan satu orang. Indonesiaku lahir dari persatuan dan kebersamaan rindu akan sebuah kemerdekaan. Di 2018, aku yakin engkau mulai mendewasa dan pesonamu harum sampai ke mata dunia. Karena di tubuhmu ada orang – orang yang selalu siap membela dan memperjuangkanmu sampai akhir. Orang yang menyayangi tanah kelahirannya seperti aku yang siap menjadi Energi Asia.

source: album angkatan-pribadi