Indonesia

Review Swiss Bell Hotel Jambi

Hai-hai…Selamat Tahun Baru 2018 ya ^_^. Di hari dan pagi pertama ini, saya mau bagi-bagi cerita soal pengalaman saya saat liburan menggunakan salah satu hotel yang digadang-gadang terbaik di Jambi untuk saat ini. Apakah itu? Yup…tak lain dan tak bukan adalah Swiss Bell Hotel Jambi. Loh kok ada embel-embel Jambinya? Tentu saja karena hotel ini ternyata ada banyak gerai. Jambi hanya salah satu dari 30 an gerai hotel yang dibuka di seluruh Indonesia. Sebetulnya Jambi sendiri mempunyai beberapa hotel bintang 4. Hm…beberapa ya. Karena selebihnya hanya hotel bintang 3 dan 2. Sedangkan untuk hotel tanpa bintang sih banyaaaak.

Pic Source: Booking.com

Nah…berhubung saya lagi ga ambil cuti, jadi saat ibu saya memutuskan untuk berkunjung saya coba ajak beliau menikmati fasilitas hotel ini. Bukan sok gaya loh ya….lagipula rate hotel ini you know lah sama kayak hotel bintang 4 pada umumnya…..ga bisa dibilang muraah hehe….Tapi buat nyenengin orang tua yang rela berpayah-payah menjenguk anaknya apa salahnya. Iya ga? Lagipula ada alasan lainnya: 1. Saya penasaran sama interiornya hotel ini,  2. Lagi ada diskonan aplikasi 3. Nunggu dibayarin kantor? Hm…Jangan ngarep deh….so, kalian bilang ini nggaya banget atau ga yah…teserah deh. Karena tujuan utama tetap sudah terpenuhi. Ibu saya cengar cengir seneng. Oh iya yang saya booking adalah kamar dengan tipe Deluxe Room non smoking. Sekali lagi..ini karena lagi diskonan aplikasi yah :p.

Fasilitas Kamar Mandi

Ok. Bagi saya kamar mandi itu penting. Apalagi untuk sebuah hotel. Kita sudah bayar mahal-mahal kok masa kamar mandinya aja bermasalah. Nah di Swiss Bell Hotel ini hampir lengkap. Karena saya ga dapat sisir rambut. Tapi penggantinya ada hair dryer. Selain itu ada lap tangan dan juga handbody lotion. Bagi saya yang seringkali menikmati hotel rakyat fasilitas seperti ini sudah mewah. Hm…kebayang ga kalau di kamar suite?

Di samping itu, ada juga listerin yang diberi label harga. Artinya kalau kita pakai berarti harus beli. Haha….masih ada juga ternyata. Kamar mandinya luas, bersih dan nyaman. Airnya juga bening dan kencang. Tapi di kamar saya tidak ada bath tub, ga tahu ya kalau kamar dengan tipe lain.

Ruang Kamar dan MiniBar

Di Mini bar bagian bawah ada banyak camilan dalam kulkas yang tentu saja….untuk dijual. Untung kami bawa camilan sendiri jadi titip aja di kulkas. Di atasnya teko listrik dan berbagai macam serbuk minuman standar seperti teh, kopi, gula dan krim dan juga botol air mineral yang gratis dan juga yang dijual (botol air yang besar). Saya sampai wanti-wanti sama ibu saya supaya jangan salah comot. Bukan apa-apa sih. Kan lebih murah jajan di warung sebelah ^___^.

Kamar tidurnya empuuuk dan untuk pertama kalinya kata ibu saya dia bisa tidur nyenyak di Jambi. Maklum beliau terbiasa di daerah hawa dingin daripada panas. Jadi kalau AC suhu 18 derajat Celsius masih saja dibilang agak panas :'(. Anaknya sih sudah beradaptasi kelewat baik malah.

View Koridor dan Jendela

Nah…kebetulan kami kemarin dapat di lantai tujuh dan bisa melihat langsung ke arah hotel Luminor di seberangnya. Koridornya enak, berkarpet (kalau di kamar karpetnya hanya sebatas kasur saja). Sepanjang mata memandang, berderet hasil jepretan fotografer profesional. Saya sendiri penyuka fotogafi jadi pemandangan ini betul-betul memanjakan mata. Oh iya…antar kamar ternyata baik daya kedap suaranya jadi ga tembus ke luar.

Sarapan Pagi

Ada banyak fasilitas di Hotel ini, termasuk soal makan. Ada 3 restoran yang siap sedia menampung keinginan pengunjung hotel. Kalau sarapan sih di bawah dekat lobi. Tapi kalau mau nyoba steam boat bisa ke restoran di lantai atas. Saya lupa nama 2 restoran di atas tersebut. Yang pasti bukanya jam 21.00 (kalau ga salah).

Untuk sarapan paginya sendiri, ternyata hampir sama dengan sarapan paginya hotel bintang 3. Maksudnya dari segi variasi makanan, rasa dan dekorasi. Bahkan ada item2 tertentu yang malah saya temukan lebih istimewa di hotel bintang 3, kayak es krim. Di Swiss Bell Hotel Jambi tidak ada. Atau memang lagi ga kebetulan aja kali ya. Saya ga sempat foto karena asyik wisata kulineran di sini. Oh iya di samping restoran ada kolam renang loh…dan kalau ga salah lihat sih…tetap bayar.

Fasilitas Antar Jemput Bandara

Nah ini yang membuat saya sedikit kecewa. Karena biasanya di hotel bintang 4 itu kan fasilitas antar jemput bandara itu free charge alias gratees….Hotel bintang 3 aja bisa begitu kok. Yah…tapi beda hotel beda manajemen sih ya. Jadi saat saya bertanya pada resepsionis untuk mengantarkan saya besama ibu ke bandara, sang resepsionis berkata bahwa fasilitas tersebut dikenai biaya Rp 90 ribu. Weleh..mending pakai GO Car yang bisa free karena voucher (Maapkeun…kalau nyari gretongan terus). Akhirnya niat tersebut saya urungkan.

Miscellanious Charge

Hahaha..ini sebetulnya aib yang ga boleh diumbar. Tapi demi informasi bersama ga apa-apalah. Jadi, mungkin ini perpaduan dari antusias menggebu dan faktor lupa yang parah. Saat melihat durian begitu berlimpah ruah di pinggiran jalan Jambi, sontak ibu saya yang dasarnya penghobi durian pengen banget bawa durian tersebut pulang ke hotel daripada makan di tempat. Naasnya saya lupa soal kondisi kamar yang non smoking. Lagian saya pikir, non smoking ya khusus rokok saja. Akhinya saat cek out sang resepsionis bisik-bisik ga enak. Saya harus bayar denda sekitar 1 juta rupiah. WHAAAAAAAAAAAAT?!! Alamat mau jalan hemat malah rugi. Eh tapi….setelah menyabarkan diri, saya juga sadar kalau itu juga akibat kelalaian kami berdua. Walaupun ga sepenuhnya sih, karena resepsionisnya ga menjelaskan soal batasan non smoking. Jadi, saya keluarkan jurus emak-emak tanah abang. Setelah nego dengan manajer dan menunggu pengecekan, akhirnya diputuskan saya bisa membayar setengahnya saja. Huft….lega sih alhamdulillah, tapi tetep ada rasa ga rela, lagian durian yang dimakan itu ga semobil kok. Tapi, meski demikian rasa ga rela itu lebih ke cara resepsionis menekankan kami untuk membayar denda karena mereka tidak bisa jual kamar yang di dekat kami dengan raut yang kurang menyenangkan. Hm…kami salah dan pasti bertanggung jawab. Tapi, dimesemin aja ya jangan dimasemin. Karena secerewet apapun, customer tetaplah customer dengan segala permintaan layanan yang terbaik.

Sebetulnya sih…dari kejadian ini saya jadi belajar informasi baru soal denda hotel. Karena ada juga cerita dari kawan, yang terpaksa harus bayar denda 2 juta per malam karena merokok di kamar non smoking. Yang ini lebih nyesekkkkk daripada nelen asap rokok. Apapun kejadian yang menimpa, banyakin syukur aja yah. Karena di balik ujian ada pelajaran.

Nah…karena memang niat awal cuma mau nyoba saja, jadi kami tidak lama menginap di Swiss Bell Hotel. Meskipun ada kejadian kurang menyenangkan, tapi saya tetap ga bakal nolak kok kalau suatu hari dikasih lagi rezeki buat kesini. Apalagi kalau gratisaaaan……

Salam semangat ^____^,

Review ini murni untuk menceritakan pengalaman saja, bukan untuk menjatuhkan salah satu pihak. Semoga ke depannya yang direview bisa lebih baik lagi dan yang sudah baik bisa dipertahankan.