Japan

Sedikit tentang budaya Jepang

Ohaiyooo..

Begitulah sapaan yang aku terima saat kali pertama bertemu dengan penduduk sekitar apato di Kyushu Kodaimae.Sebuah distrik kecil yang bisa disebut desa disini. Desa yang menurutku sudah bergeser maknanya lebih kepada kota besar. Jalanan yang licin mulus beraspal, fasilitas kereta api, taxi, sepeda plus parkirannya. Lift  menuju dan keluar stasiun bagi difable dan lansia, dan maaasih banyak lagi.

Saapan tadi memang tidak semuanya bersikap demikian, ada yang hanya senyum saja, ada yang menyapa ada juga yang biasa saja.Namun, hampir smua orang paruh baya bersikap lebih ramah dibandingkan anak muda.Apalagi saat ponakanku yang lucu lagi dibawa jalan. Semua orang tuanya dan sebagian anak mudanya selalu bilang kawaiiiii….

Bisa dibilang, awal-awal aku datang merasakan jetlag bertubi-tubi. Sudahlah waktu lebh cepat dua jam. Fasilitas dan mental disiplinnya pun berbeda jauh sama keseharian di tanah air. Menggunakan fasilitas trotoar bertahun – tahun, belum pernah sekalipun ada mobil yang mau nunggu pengguna jalan saat nyebrang. Jadi kalau di Jepang, saat ada pejalan kaki mau menyebrang jalan meski tidak ada lampu penyebrang jalan, si kendaraan akan mempersilahkan pejalan kaki terlebih dahulu. Ada hak pejalan kaki yang dihargai disini.

Jalanan trotoar pun dlengkapi oleh jalur berbenjol-benjol warna kuning atau abu.Fungsi jalur ini kata teman adik adalah untuk para tuna netra yang sedang jalan-jalan sendirian supaya bisa meraba jalan.

IMG20160922104028.jpg

Begitupun saat naik escalator dan lift. Naik escalator di sini jika sedang tidak terburu-buru mesti di lajur kiri.Jalur kanan khusus untuk orang yang mengejar kereta atau tergesa-gesa memburu waktu. Hal ini berlaku untuk jalan raya, lajur tengah, semacet apapun harus senantiasa kosong untuk kepentingan ambulans dan hal darurat lainnya.

Orang disini termasuk ramah tapi juga tidak kepooo…artinya mereka bertanya seperlunya, menjawab sewajarnya. Ga ada pakai korak korek info lebih dari yang mereka butuh. Kalau ada orang yang kurang normal, aneh ataupun kasihan. Mereka tidak akan menatap lama-lama supaya tidak menyinggung. Dan jika menawarkan sesuatu memang benar-benar bakal mereka lakukan, sampai tuntas.

Di kendaraan umum, kita bisa dengan mudah menemukan priority seat yang ga pernah diduduki kalau ga prioritas. Selalu ikut aturan, dimana buang sampah, dengan membedakan mana plastik, botol dan kertas.Merokok di ruang terbuka juga ada tempatnya.Jika di tempat wisata biasanya dikasih tanda smoking side.

Jika sedang sakit, yang si empunya sakit akan berhati-hati kontak dengan yang lain karena takut menulari orang lain. Hampir selalu pakai masker, bahkan kalau bersin ga pakai acara persiapan sampai ngagetin orang sekitar. Sepelan sesopan mungkin.

Sebenarnya aku ga aneh dengan semua hal ini, secara semua sikap mental ini diterapkan sejak mereka kecil. Bahkan anak usia 2-3 tahun saja sudah kalau nangis yang ga masuk akal karena minta jajan atau egosentrisnya lagi kambuh, bakal dibiarkan nangis sampai berhenti sendiri. Ga smua kemauan anaknya diikuti. Sedari kecil diajari toleransi dan praktek secara keseluruhan.

Tapi, yang namanya manusia ga ada yang sama. Ada juga kok orang Jepang disini yang ga patuh aturan, biasanya yang kayak gini suka dikucilin karena dianggap ga berkepribadian baik. Sebetulnya  kepatuhan aturan sendiri itu bukan masalah kamu golongan darah A, O, B, AB kok (ini juga bukan fakta loooh). Tapi lebih kepada kita sebagai manusia memang ga hidup sendiri, ada hak orang lain disamping kepentingan kita.

O ya ga ketinggalan, para lansia disini termasuk banyak loh, pada awet tua. Sehat – sehat masih ada yang jadi sopir taksi loh (dalam balutan kemeja dan dasi panjang). Dan ini menjadi masalah tersendiri bagi pemerintah Jepang. Para lansia hampir semua sudah tidak bisa lagi bekerja namun tetap dapat tunjangan dari pemerintah meski bukan PNS. Nah di kita, malah kebanyakan anak muda jadi polemik, karena anak mudanya belum terberdayakan semua. Yang ada malah anak muda alayers dan galau).

Yuk yang muda-muda, bangun Indonesia. Tahu ga kalau alam Jepang tuh ga sekaya alam kita, pun sumber daya manusianya. Mereka Cuma pintar merawat dan memberdayakan yang ada sehingga semuanya tercukupi dan dinikmati semua lapisan.Tentu saja semuanya pakai biaya.

Contoh lapangan terbuka, kalau di Indonesia kita bisa saja parkir sembarangan, buang barang sembarangan tinggal ke loakan atau TPA. Di Jepang semuanya bayar. Bahkan kalau buang barang yang tidak mau dipakai lagi harus bayar.

Ini bukan budaya milik orang Jepang saja. Kita juga bisa asal dimulai dari sekarang. Yuk terapkan dari hal-hal yang kecil dulu seperti buang sampah misalnya. Kita Indonesia pasti bisa !!!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s